Selamat Datang Diblog Impian

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Selasa, 24 Mei 2011

postheadericon Pemutaran Film Dokumenter "BABAD TANAH PEMALANG" Di pendopo Pemalang

 Film dokumenter ‘Babad Tanah Pemalang’ (BTP) produksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Pemalang yang dilaunching Senin malam (2 /8) di pendopo kabupaten menjadi buah bibir masyarakat yang memang haus hiburan sekaligus masih awam terhadap latar belakang sejarah daerahnya.
Film garapan sutradara asal Pemalang, Torro Margens yang naskah cerita dan skenarionya diracik penulis dan sutradara kondang Imam Tantowi, dinilai mampu memberikan gambaran masyarakat Kota Ikhlas akan masa lalu kabupaten tertua di telatah pantura tersebut.Dalam film yang dibintangi sejumlah aktor nasional dan diramaikan sekitar seratus pemain lokal tersebut dikisahkan keberadaan Pangeran Benowo paska kemelut kekuasaan di Kesultanan Pajang.Putera Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) dari istri selir itu kemudian memutuskan menetap di Kadipaten Pemalang yang sedang ‘komplang’ (tak mempunyai raja) setelah ditinggal sang adipati Anom Windugalbo.Pemalang sendiri merupakan telatah gemah ripah dibawah rehrehan Kesultanan Pajang. Kadipaten Pemalang sebagaimana digambarkan dalam cerita sinea itu merupakan kawasan penting yang sepeninggal sang adipati hanya dipimpin seorang patih muda bernama Jiwonegoro. Patih yang bersahaja namun sakti mandraguna ini dengan rendah hati mengakui dirinya hanyalah seorang patih, sedang Pemalang ditinggalkan rajanya.Terkisah di suatu malam Jiwonegoro yang dalam legenda dikenal dengan julukan Patih Sampun, mendapat wisik dari Gusti Kang Murbeng Dumadi berupa tengara hadirnya sebilah keris pusaka luk tigabelas. Ternyata dikemudian hari wisik itu menjadi kenyataan, Pangeran Benowo yang notabene pewaris pusaka keris luk tigabelas bernama Kyai Tapak, benar-benar datang untuk menjadi raja di Pemalang. Kehadiran Pangeran Benowo bersama guru spiritualnya Ki Julung Wangi dan resi pengasuh Ki Buyut Jamur Apu disambut oleh Syeh Talabudin, ulama asal Cirebon yang mengasuh padepokan santri di Warung Asem dan Padurungan Taman.Syeh Talabudin dan Ki Julung Wangi merupakan sahabat seperguruan ketika menimba ilmu pada seorang wali di Demak Bintoro. Oleh Syeh Talabudin, Pangeran Benowo yang kemudian menjadi muridnya disarankan tetirah untuk menenangkan diri sekaligus memimpin Kadipaten Pemalang yang telah komplang karena dua petingginya, yaitu Adipati Anom Windugalbo dan Patih Gede Murti, telah meninggal.Pangeran Benowo memenuhi harapan ulama tersebut, kemudian ditabalkan menjuadi Adipati Pemalang di pendopo kadipaten. Penobatan tersebut berlangsung malam hari pada 1 Syawal bertepatan pada tanggal 24 Januari 1575 yang dikemudian hari ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Pemalang. (Ruslan Nolowijoyo)www.pesisirnews.com

Babad Tanah Pemalang, Pengukuhan Sejarah Kabupaten Pemalang
LEGENDA sebuah kota atau kabupaten, terkadang membuat masyarakat menjadi kebingungan. Sebab, banyak kontroversi yang menyertainya di tengah masyarakat. Kontroversi itu, bahkan kerap memicu munculnya perdebatan pro kontra.
Meski begitu, bagi Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Pemalang, Drs Hendro Susetyo MSi, pro kontra justru menjadi motivasi tersendiri. Yakni dengan menggarap film Babad Tanah Pemalang. Usaha dan kerja keras, yang pada awalnya mendapatkan banyak cibiran. Namun, toh pada akhirnya semua itu berlalu, karena film telah rampung digarap.
Darah seniman yang selama ini mendarah daging ditubuhnya, mengejawantahkan hasrat dan cita-cita akan nilai-nilai sejarah Kabupaten Pemalang. Dengan diproduseri sendiri, Film BTP begitu diputar pada malam kemerdekaan RI ke-65 lalu, mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat.
"Pada awalnya, ide membuat film ini mendapatkan banyak kritikan dari sana-sini. Tapi semua itu tidak menyurutkan langkah kami untuk terus berjalan," terang suami dari Aninggar Trisnani ini, kepada Radar kemarin.
Mengenang proses dan perjalanan ide membuat film, pada awalnya Hendro sering mengadakan perkumpulan dengan beberapa seniman di Kabupaten Pemalang dan masyarakat pada umumnya. Dari kumpul-kumpul tersebut, banyak diantara mereka yang mempertanyakan sejarah berdirinya Kabupaten Pemalang yang sesungguhnya. Beberapa dokumen sejarah, kemudian dipelajarinya hingga berkali-kali.
Selanjutnya, ia mewacanakan gagasan untuk membuat sesuatu yang berbeda dalam mengenal sejarah, yakni melalui film. Rekan-rekannya ternyata mendukung, sehingga Hendro bertekad untuk mendokumentasikan perjalanan dan asal-usul berdirinya Kabupaten Pemalang.
Pergulatan kemudian dilanjutkan dengan berburu buku-buku dan dokumen-dokumen yang menceriterakan tentang sejarah Pemalang. Dimana selama lebih setengah tahun, dia berkeliling ke perpustakaan seluruh penjuru nusantara. Dengan harapan, akan menemukan otentifikasi sejarah. Sehingga saat difilmkan, rentetan cerita yang disuguhnkan dapat lebih mengena.
"Dari perpustakaan Solo, perpustakaan Keraton Yogyakarta, Universitas Gajah Mada, Perpustakaan Nasional, hingga ke Kedutaan Besar Belanda di Jakarta," tutur ayah satu anak ini kepada Radar.
Untuk menggali lebih dalam, tambah Hendro, penulis naskah Film BTP, Imam Tantowi, bahkan sampai meminjam buku dari Belanda langsung. Yakni buku sejarah yang menceritakan raja-raja di Jawa secara lengkap.
Setelah mendapatkan bukti-bukti yang kuat, pria yang sudah 10 kali berpindah-pindah jabatan di Pemkab Pemalang ini menganalisis sumber-sumber yang ada untuk dijadikan sebagai rujukan.
Pemkab Pemalang sendiri saat ia mengajukan anggaran, menyetujuinya dengan menggelontorkan dana sebesar Rp 350 juta. Nominal yang menurutnya pas-pasan, karena untuk menyewa berbagai perlengkapan syuting, asesoris, akomodasi, konsumsi pemain selama syuting, serta lainnya, membutuhkan dana tidak sedikit. "Alokasi yang diberikan Pemkab 350 juta. Ini nominal yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan hasil yang dicapai," ujar pria bertubuh pendek itu.
Film yang pada akhirnya disutradarai oleh Torro Margen, aktor kawakan asli Pemalang. Dengan hasil yang tidak mengecewakan, karena layaknya film kolosal, Film BTP menghasilkan visualisasi mentereng seperti halnya film Saur Sepuh, Babad Tanah Leluhur, serta film kolosal lainnya. Selama penggarapannya, BTP melibatkan setidaknya 200 pemain lokal dengan durasi waktu tiga bulan.
Terakhir, kandidat Doktor Sosiologi Jawa dari UGM Yogyakarta ini berharap, Film BTP dapat memberikan pengukuhan akan sejarah Kabupaten Pemalang. (cw2)

postheadericon Legenda Dua Keris Pusaka Pemalang dalam Sejarah Pemalang

Ciri-ciri Keris pusaka KYAITAPAK:
-Panjang 40 cm
-Paksi(pasi) merit
-Ganjal hanya tempelan dan tebal
-Buntut daun dari pandan
-Bungkul gunung diapit dua aluran
-Lambe gajah: tusuk mengocinarito
-Bentuk keris gigir sapi
-Kutub landep pinatas
-Engkol atau luk berjumlah 13
-Pamor lajer
-Pamor ketiga dari atas adalah emas
-Buatan empu Supodriyo dari Majapahit
-Garan (pegangan) terbuat dari gigi buaya,dan berukir gambar manusia tua sedang sedekap
-Pemberian dari Ki Ageng Selo
-Werangka ladrang dari kayu Cendanasari.

*Keris pusaka Kyai Setankober*
Ciri-ciri Keris pusaka KYAI SETANKOBER:
-Panjang 40 cm
-Paksi timbang
-Ganjal irisan tebal
-Buntut pasungan lancip
-Bungkul (bogol) berukir raksasa bermata emas dan berambut gimbal
-Diatas bungkul ada gambar manusia berusia lanjut memakai bentiong(teken)
-Diatasnya lagi berpamor pocongan,diatasnya pamor bergambar setan berkelana,diatasnya lagi berpamor orang berpayung
-Bentuk keris lurus dan tegap
-Kutub lancip
-Werangka gandon dari kayu Daru
-Buatan empu Ki Supadrio
-Pemberian dari pangeran Sekar Sidolephen

Kedua Keris pusaka tersebut sampai sekarang masih terpelihara dengan aman,suwaktu-waktu dimrangani (dibersihkan) oleh juru kunci Makam pangeran Benowo yaitu mbah Yahya.kedua pusaka tersebut disimpan dalam kotak yang terkunci rapat.hingga kini teratur dijamasi minyak Za'faron asli.keris tersebut sejak tahun 1982 diberi sarung dengan warna kuning kunir bosok .
Setiap hari-hari besar,keris tersebut slalu di ukuf dengan dupa dan kayu dewandaru.apabila ada pihak manapun yang hendak melihat silahkan datang ke desa Pedurungan,kecamatan Taman,kabupaten Pemalang.


(sumber:Ki Sunari Djokotjarito)

postheadericon Asal mula nama 'Patih Sampun' dalam Legenda Pemalang


Dalam kepemimpinannya di Kadipaten Pemalang,Sang Adipati Anom (baru) mengadakan pertemuan dengan para Punggawa Kadipaten untuk membahas masalah pembangunan di Pemalang.untuk mempermudah hubungan dengan daerah-daerah di Pemalang kala itu, Adipati Pangeran Benowo memerintahkan kepada Patih Djiwonegoro untuk membangun dua jembatan di sungai banger dan di sungai Srengseng di Kebondalem.pada saat diberi mandat tugas tersebut,dengan spontan Patih Djiwonegoro menjawab "sampun dados (sudah jadi),kanjeng Adipati".
Mendengar jawaban Patih Djiwonegoro,sang Adipati Pangeran Benowo tercengang dibuatnya.untuk membuktikan kebenaran ucapan Djiwonegoro,pada pagi harinya Pangeran Benowo meninjau lokasi dua jembatan tersebut,dan ternyata apa yang di ucapkan Djiwonegoro benar adanya,di dua sungai tersebut telah terbentang jembatan yang di kehendaki Adipati.maka semakin yakinlah Pangeran Benowo kepada bhakti dan kesetiaan patih Djiwonegoro,putra asli pemalang yang masyhur kesaktiannya.
Pada hari berikutnya,sang Adipati Benowo memerintahkan lagi kepada patih Djiwonegoro untuk membangun lagi dua jembatan di sungai Rambut di Bojongkelor dan sungai Plawangan.namun lagi-lagi dijawab "sampun dados,kanjeng Adipati" oleh Djiwonegoro.namun kali ini Adipati Benowo tak perlu lagi mengecek kebenaran jawaban yang di berikan oleh patihnya,dikarenakan sang Adipati sudah mempercayainya.
Bahkan bulan-bulan berikutnya adipati Pangeran Benowo memerintahkan lagi untuk membangun beberapa jembatan berturut-turut,jembatan-jembatan tersebut antara lain sebagai berikut:
- Jembatan Gianti,terdapat didepan polres lama,Sirandu.
- Jembatan di kali Waluh,Kedungbanjar.
- Jembatan di sungai Comal,kali Comal.
- Jembatan sungai Plawangan, di Lawangrejo.
- Jembatan sungai Sudetan di desa Krasak.
-Jembatan Pesapen, didepan kantor kecamatan Pemalang.
- Jembatan Slarang di sungai Waluh,di perbatasan desa Lenggong,Slarang.
- Jembatan sungai Raja (Siraja) di wilayah Bantar bolang,tepatnya di dukuh Simbang,Pegiringan.
- Jembatan di perkebunan kelapa Gentongreot,Karang moncol.
- Jembatan di desa Mejagong di kali Comal.
- Jembatan di desa Datar,di kali Comal.
- Jembatan Sudetan di daerah Moga,didepan Pesanggragan dan pemandian.
- Jembatan di perbatasan desa Cikasur dan desa Randu dongkal.
- Jembatan di desa Bulakan,dan -
- Jembatan di desa Belik.

DI NOBATKAN SEBAGAI PATIH SAMPUN
Pada pertemuan berikutnya,Adipati pangeran Benowo melibatkan Tumenggung dan seluruh Demang serta para Penatus dan Bekel se kadipaten Pemalang,dalam acara tersebut,Adipati pangeran Benowo mengucapkan terima kasih kepada Patih Djiwonegoro dan para punggawanya atas jasa-jasanya dalam membangun beberapa jembatan di wilayah kadipaten Pemalang,maka,atas jasanya tersebut patih Djiwonegoro diberi gelar "sampun",dan sejak saat itu Patih Djiwonegoro lebih dikenal sebagai Patih Sampun.

(sumber:Ki Sunari Djoko Tjarito)

postheadericon kembalinya Keris pusaka KYAITAPAK dalam Legenda Pemalang



Pada penghujung abad ke XVI,kesultanan Banten yang dipimpin oleh Panembahan Yusuf sedang dalam kekacauan akibat ulah Portugis,dan sedang dalam rongrongan adik Panembahan Yusuf sendiri yang diasuh oleh Ratu Kalinyamat dari Jepara yang menuntut pengalihan tahta kesultanan Banten.
Pada waktu itu,Panembahan Yusuf memerintahkan kepada Patih Thalabuddin untuk meminta kembali Keris pusaka Kyai Tapak yang sebelumnya dipinjamkan kepada Pangeran Benowo saat hendak menjadi Adipati di Pemalang,maka berangkatlah patih Thalabuddin menuju ke kadipaten Pemalang.
Sesampainya di Pemalang,tidak begitu saja patih Thalabuddin dapat mengambil keris pusaka tersebut.ia disuruh oleh Pangeran Benowo untuk membuktikan,kalau memang benar dirinya adalah utusan dari kesultanan Banten,maka pastilah ia mampu membawa keris tersebut ke Banten.lalu untuk meyakinkan Pangeran Benowo,patih Thalabuddin menjalani tirakat bertapa di Waringin tunggul,antara desa Benjaran dan Pedurungan barat.
Setelah beberapa hari bertapa,maka Patih Thalabuddin berhasil mendapatkan keris Kyai tapak.namun dalam perjalanan pulang ke Banten,patih Thalabuddin jadi keder (tersesat) tak tahu arah jalan pulang.hal ini karena pengaruh kesaktian Pangeran Benowo terhadap keris pusaka tersebut atau karena patih Thalabuddin kurang sempurna dalam bertapa,ini kurang begitu jelas.yang pasti,sejak mendapatkan keris pusaka tersebut,patih Thalabuddin hanya muter-muter mengelilingi daerah Pemalang saja selama perjalanan pulang.
Hal ini diketahui oleh Pangeran Benowo yang lalu memerintahkan patih Sampun untuk mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa Keris pusaka Kyai tapak telah hilang dicuri orang.lalu datanglah Patih Thalabuddin menghadap Adipati pangeran Benowo sambil menangis ketakutan.sambil gemetar dan meminta ampun,patih Thalabuddin memberikan keris pusaka itu kepada sang Adipati.
Dengan berbesar hati,adipati pangeran Benowo menerima permohonan ampun patih Thalabuddin,yang lalu diangkatnya menjadi Patih kedua di kadipaten Pemalang yang bertugas menyebarkan ajaran agama Islam kepada penduduk/masyarakat Pemalang.karena kecerdasannya pula,Patih kedua Thalabuddin juga diberi wewenang mengatur perekonomian di kadipaten Pemalang mendampingi patih Sampun.dalam beberapa kisah,diriwayatkan bahwa hingga akhir hayatnya,patih Thalabuddin mengabdi dan mencurahkan ilmunya untuk penduduk Pemalang.
Maka dengan demikian,penguasa Pemalang pada masa kepemimpinan Adipati Pangeran Benowo,Patih Sampun (Djiwonegoro) dan Patih kedua Thalabuddin berhasil mencatatkan sejarah keberhasilan dalam menjalankan kepemimpinannya.keberhasilan tersebut diantaranya adalah :
- Dapat menyatukan beberapa wilayah,yaitu Tegal,Pemalang dan Brebes.
- Dapat menciptakan kehidupan yang tenteram serta keamanan yang terjamin.
- Dapat meletakkan dasar dan melanjutkan pembanguna.
- Berhasil menumbuhkan kerukunan antar umat beragama tanpa mengurangi berkembangnya ajaran agama Islam yang pesat.
- Berhasil menumbuhkan ekonomi penduduk Pemalang hingga terjamin kecukupan pangan,sandang dan papan masyarakat.
- Bisa merintis jalan yang menjadi cikal bakal jalan-jalan besar di masa setelahnya.
- Dapat membina pendidikan,seperti berdirinya padepokan (Hindu-Budha) di Pedurungan dan Wanarejan serta Pondok Pesantren di Kebondalem dan Ulujami.
Selain keberhasilan-keberhasilan tadi,trio Benowo,Sampun dan thalabuddin dalam kepemimpinan Pemalang tempoe doeloe adalah mampu mendayagunakan kekayaan alam yang ada sebagai sumber ekonomi rakyat.tak di pungkiri,Pemalang memiliki gunung Slamet beserta hamparan hutan rimbun yang membujur disebelah selatan Pemalang,sebagai cagar alam dan kelestarian mata air,serta sungai-sungai besar maupun kecij yang sanggup menampung curah hujan sehingga menjamin sumber air untuk pemanfaatan sawah,ladang dan perkebunan masyarakat hingga musim kemarau sekalipun.kesuburan tanah Pemalang ini sudah dikenal sejak zaman Majapahit,Pemalang juga mempunyai Pelabuhan untuk singgah kapal-kapal dagang,yang transit dan berdagang di Pemalang.
Trio Pemalang ini juga dikenal pandai membina para Punggawa praja untuk bekerja sama dan manunggal dengan rakyatnya.
Maka demikian,Pemalang pada saat itu sudah mempunyai tata administrasi pemerintahan yang cukup teratur,baik ditinjau dari sarana dan prasarana kehidupan masyarakatnya,serta kecakapan dalam aparatur pemerintahannya.


(sumber:Paguyuban Seni karawitan NGESTI BUDAYA)

postheadericon Sejarah Asal mula nama PEMALANG dalam sejarah Pemalang


Mengenai dari mana nama Pemalang berasal,terdapat bermacam-macam legenda sebagai berikut:
1. Nama Pemalang diambil dari kepribadian watak rakyat Pemalang yang bersemboyan:
- Benteng wareng ing payudan tan sinayudan.
- Banteng wareng ing sinonderan yang artinya, rakyat Pemalang jika sudah dilukai atau dijajah berani berjuang RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG BERANI BERKORBAN HABIS-HABISAN DEMI NUSA DAN BANGSA.
- Arti banteng wareng rakyat kecil payudaan : perang tan sinayudan : perang tidak dapat dicegah RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG BANTENG WARENG SINONDERAN : Dalam melawan musuh sambil menari-nari, sinonderan biarpun sampai kalung usus takan pantang menyerah.
2. Nama Pemalang diambil dari nama sungai me'malang' yang membentang dari sebelah utara desa Kabunan membujur ke pelabuhan Pelawangan. Sungai tersebut sering digunakan untuk sarana angkutan, membawa barang-barang dari pusat Pemalang ke berbagai wilayah seperti Kabunan, Taman, Beji, Pedurungan (pada abad ke XIV di masa Majapahit berkuasa) saat itu penguasa Pemalang adalah Ki Gede Sambungyudha.
3. Karena erosi akibat arus sungai yang membawa lumpur dari gunung ke laut diperkirakan per tahun terkikis lima-enam meter maka sungai MALANG berpindah ke utara dari Comal ke Asemdoyong, sungai itu melintang malang, tidak dari selatan gunung ke utara tetapi dari timur ke barat, sehingga membingungkan orang yang mau berbuat jahat. contohnya ketika patih Thalabuddin dari kesultanan Banten membawa keris Kyai tapak ia mendadak menjadi bingung ( keder ) sehingga mondar-mandir saja di Pemalang.

(sumber : Ki Sunari djoko Tjarito)

postheadericon Penyusun sejarah PEMALANG KOMPLANG,yang mengulas Legenda Pemalang


Terkait tentang pertanyaan siapa yang melakukan penyusunan uraian,urutan kisah dan para tokoh pelaku terkait buku sejarah yang memuat kejadian demi kejadian dalam legenda Pemalang yang masyhur dengan sebutan PEMALANG KOMPLANG,yang berarti "kekosongan Pemalang" sebelum kedatangan putra Pajang yaitu Pangeran Benowo yang akhirnya memerintah di Pemalang sebagai Adipati.
Jawaban pertanyaan diatas adalah bahwa kisah Pemalang Komplang didapat dari Nyi Ageng Telasih (bu Taswen) yang merupakan putri Ki Jagaraksa dari keturunan Patih Djiwonegoro,adapun silsilahnya sebagai berikut :
- Ki Gede Murti (cincing Murti patih Pemalang pada saat Pemalang di perintah Ki Gede Sambungyudha *1358-1401) menurunkan :
- Ki Patih Sampun Djiwonegoro yang wafat tahun 1616 (dimakamkan di Depok slatri desa Wanarejan kecamatan Taman kabupaten Pemalang) menurunkan :
- Ki Djoyowinogo (tahun wafat tidak diketahui,dimakamkan di desa Kedungbanjar kecamatan Petarukan kabupaten Pemalang) menurunkan :
- Ki Ragawicana (tahun wafat tak diketahui,dimakamkan di desa Kedungbanjar) menurunkan :
- Ki Djakaraksa pangkatdjayabaya (tahun wafat tak diketahui,dimakamkan di kecamatan Pamanukan kabupaten Indramayu Jawa barat) menurunkan:
- Nyi Ageng Telasih/bu Taswen yang diperistri oleh keturunan Buminata yang bernama Ki Singotirto,(tahun wafat ..... ,keduanya dimakamkan di desa Pedurungan kecamatan Taman kabupaten Pemalang) menurunkan :
- Ki Sunari Djoko Tjarito,beliau aktif dalam kesenian wayang kulit sebagai Dalang.dan menjabat sebagai Penilik generasi muda pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang.
Dari Ki Sunari inilah kemudian sejarah Pemalang Komplang dibukukan
Senin, 23 Mei 2011

postheadericon Tragedi pemalang

 
Tubrukan Kerata Api (KA) Argo Anggrek dengan KA Senja Utama di Stasiun Petarukan, Pemalang, yang menelan banyak korban baik tewas maupun luka parah ternyata menyisakan ceritera lain berbau mistik.

Stasiun KA Petarukan sejauh ini dikenal sebagai stasiun kecil dan hanya beberapa kereta ekonomi saja yang berhenti. Itu pun jika sang masinis berbaik hati. “Kalau sejumah pedagang asongan minta tolong ke petugas pengatur perjalanan kereta api (PPKA), pasti keretanya berhenti,” ujar Jairul, 30, warga Desa Klareyan, Petarukan, kepada Pos Kota (2/10).

Selain tempat berkumpul pedagang asongan, Jairul juga mendengar cerita-cerita mistik di lokasi terjadinya musibah maut tersebut. “Sebelah kidul (barat) sawah dan di ngetan (timur ) permukiman. Di daerah itu tergolong angker,” ujarnya.


SUARA ANEH
Dia pun menuturkan lokasi tabrakan itu memang menjadi tempat mistik. Sebelum masuk stasiun ada kali besar yang menjadi pembatas kecamatan. “Kali itu juga sering ada suara-suara aneh,” sebut Jailur.

Banyak pedagang di sana menyebut tempat itu seperti daerah persinggahan arwah pekerja jalan yang dibangun Deandles Anyer-Panarukan. Arwah-arwah gentayangan itu adalah korban pembantaian saat pembangunan jalan. Sekarang jalan tersebut menjadi jalan tua dan tidak dilalui oleh kendaraan lagi.

“Kalau malam masih terdengar suara-suara aneh di sekitar stasiun,” imbuh Jairul seraya membeberkan biasanya setiap setahun sekali, ada saja korban akibat kecelakaan seperti kereta tubrukan atau orang ditabrak kereta." 

source: http://www.unikaja.com/2010/10/tragedi-ka-stasiun-panarukan-tempat.html#axzz11OV5mR4Y
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

postheadericon Tentang UKM


Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut: 
  1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha 
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah) 
  3. Milik Warga Negara Indonesia 
  4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar 
  5. Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
Di Indonesia, jumlah UKM hingga 2005 mencapai 42,4 juta unit lebih.
Pemerintah Indonesia, membina UKM melalui Dinas Koperasi dan UKM, di masing-masing Provinsi atau Kabupaten/Kota.

postheadericon Sejarah kota pemalang

 
Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan Moga. Patung Ganesha yang unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak. Selain itu bukti arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya kuburan Syeikh Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel yang juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.
Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijkloff van Goens dan data di dalam buku W. Fruin Mees yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Panembahan Senopati dan Panembahan Seda Krapyak dari Mataram menaklukkan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.
Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.
Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Mulyoharjo, Widuri dan kemudian Bojongbata.
Pada masa itu Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun 1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran Benawa. Pangeran ini asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya yang telah mangkat yaitu Sultan Adiwijaya.
Kedudukan raja ini didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya dan Farid Kurniawan.
Sayang sekali Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun. Pangeran Benawa meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat menyatakan bahwa Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa Penggarit (sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).

Kadipaten bawahan Mataram

Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R. Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut beberapa sumber R Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu perjuangan melawan Belanda di bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.
Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.

Masa Perang Diponegoro

Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.
Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog van 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Van den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.
Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah.
Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan joglo sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.

Masa kolonial Belanda dan seterusnya

Dengan demikian Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan di masa sekarang.

Hari jadi dan sesanti

Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk memperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.
Salah satu alternatif penetapan hari jadi Kabupaten Pemalang ialah pada saat diumumkannya pernyataan Pangeran Diponegoro untuk mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli 1823. Namun, berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang, hari jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575, atau bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Keputusan tersebut selanjutnya ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang. Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkala Lunguding Sabda Wangsiting Gusti yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751. Sedangkan tahun 1496 Je diwujudkan dengan Candra Sengkala Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka, sarana/wadah/alat untuk, persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.
Adapun Sesanti Kabupaten Pemalang adalah Pancasila Kaloka Panduning Nagari, dengan arti harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan mempunyai nilai 5751

Geografi

Bagian utara Kabupaten Pemalang merupakan dataran rendah, sedang bagian selatan berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Slamet (di perbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Purbalingga), gunung tertinggi di Jawa Tengah. Sungai terbesar adalah Kali Comal, yang bermuara di Laut Jawa (Ujung Pemalang).
Ibukota kabupaten ini berada di ujung barat laut wilayah kabupaten, berbatasan langsung dengan Kabupaten Tegal. Pemalang berada di jalur pantura Jakarta-Semarang-Surabaya. Selain itu terdapat jalan provinsi yang menghubungkan Pemalang dengan Purbalingga. Salah satu obyek wisata terkenal di Pemalang adalah Pantai Widuri.
Kabupaten Pemalang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Secara astronomis Kabupaten Pemalang terletak antara 109°17'30" - 109°40'30" BT dan 6°52'30" - 7°20'11" LS.
Dari Semarang (Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah), Kabupaten ini berjarak kira-kira 135 Km ke arah barat, atau jika ditempuh dengan kendaraan darat memakan waktu lebih kurang 3 - 4 jam. Kabupaten Pemalang memiliki luas wilayah sebesar 111.530 km², dengan batas-batas wilayah :
Dengan demikian Kabupaten Pemalang memiliki posisi yang strategis, baik dari sisi perdagangan maupun pemerintahan.
Kabupaten Pemalang memiliki topografi bervariasi. Bagian Utara Kabupaten Pemalang merupakan daerah pantai dengan ketinggian berkisar antara 1 - 5 meter di atas permukaan laut. Bagian tengah merupakan dataran rendah yang subur dengan ketinggian 6 - 15 m di atas permukaan laut dan bagian Selatan merupakan dataran tinggi dan pengunungan yang subur serta berhawa sejuk dengan ketinggian 16 - 925 m di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Pemalang ini dilintasi dua buah sungai besar yaitu Sungai Waluh dan Sungai Comal yang menjadikan sebagian besar wilayahnya merupakan daerah aliran sungai yang subur.

Pembagian administratif

Kabupaten Pemalang terdiri atas 14 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dankelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Pemalang.
Di samping Pemalang, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Comal, Petarukan, Ulujami, Randudongkal dan Moga.
Kecamatan di Kabupaten Pemalang yaitu:
  1. Bodeh
  2. Ulujami
  3. Comal
  4. Ampelgading
  5. Petarukan
  6. Taman
  7. Pemalang
  8. Bantarbolang
  9. Randudongkal
  10. Warupring
  11. Moga
  12. Pulosari
  13. Watukumpul
  14. Belik
Kabupaten Pemalang kebanyakan merupakan suku Jawa. Di bagian barat dan selatan, penduduknya bertutur dalam bahasa Jawa dialek Tegal, sedangkan di bagian timur seperti di Petarukan, Comal, Ulujami, Ampelgading dan Bodeh bertutur dalam bahasa Jawa dialek Pekalongan.

Industri Rumah Tangga

Rupa-rupa

Tokoh terkenal